Belum Waktunya

“Belum Waktunya”

Belum waktunya kau untuk mencintaiku..
Jika kau masih merasa belum mampu meraihku…
Ketika kau masih dalam angan untuk menggenggam hatiku…
Jangan biarkan cinta-cinta yang telah ada dalam genggam hatimu lepas.
Hanya karena kau sibuk dengan perasaanmu sendiri…
Karena…belum tentu kau akan bisa memilikiku..
Jangan sampai kelak kau akan menyesal…
Karena kau sudah tak bisa meraihku, kau harus kehilangan pula cinta-cinta lain yang telah ada di genggaman hatimu…

By Indira…

Itulah sepucuk surat yang tak sengaja kutemukan di pojok meja perpustakaan kampus. Sudah agak lusuh dan berdebu menandakan bahwa surat itu sudah lama ditulis. Entahlah…untuk siapa surat itu ditujukan Indira, aku memang sudah lama tak ada komunikasi dengan Indira, sejak kejadian sekitar 4 bulan lalu…
***
Indira Fatimah, nama yang bagiku sangat indah, seindah ketika aku mengenal sosok muslimah aktivis rohis kampus yang akrab di panggil Indira. Siapa yang tak mengenalnya? Namanya begitu akrab di telinga hampir semua penghuni universitas ternama di kota ini. Indira terkenal karena aktif sebagai penulis lepas di berbagai media massa lokal dan luar daerah. Tulisannya tajam, senang menyusupkan kritikan terhadap sebuah permasalahan, tapi juga luar biasa ketika di setiap akhir tulisan selalu ada ide solutif sebagai pertimbangan penyelesaian masalah itu. bagi yang hanya mengenal Indira lewat tulisan, pasti menyangka bahwa sosok Indira adalah tegas, keras dan serius. Tapi tidak, justru sebaliknya, Indira dikenal sebagai sosok yang ramah, tak segan memberi senyum, bahkan tak jarang dia senang bercanda dan sedikit konyol.

Hmm..darimana aku bisa tahu dia ya? aku hanya tak sengaja sering melihatnya di taman depan kampus, saat aku sedang berada di lantai 2 sekedar melihat pemandangan dari atas. Jujur, aku tak ingin melepas pandanganku dari Indira, tapi aku tahu bahwa pandangan ini adalah amanah yang harus kujaga kesuciannya, jadilah ketika tak sengaja melihat, aku mengalihkan pandangan dan hanya terdengar sayup-sayup suara Indira bersama akhwat lainnya.

Aku tak tahu sejak kapan nama Indira suka mengusik pikiranku, memang aku termasuk pembaca setia tulisan Indira, entah dari membaca koran, atau di blognya yang kebetulan masuk dalam link blogku, atau tak sengaja terlihat di beranda facebook-ku. Kuakui, tulisan Indira itu unik, serius tapi mudah untuk dimengerti. Aku juga baru tahu, Indira ternyata orangnya puitis juga, meski aku bukanlah teman yang akrab dengannya, terutama di facebook, jadinya tidak pernah kena tag dia, aku sering membaca tulisan puisinya yang dianggapnya sebagai intermezzo untuk tulisan berat berikutnya. Ahh…aku bukanlah apa-apa meski hanya sekedar menyapa seorang Indira, aku tak pernah mengenal sosoknya secara langsung karena memang kami beda fakultas meski satu universitas. Bahkan meski sama-sama aktif di rohis, kami tak pernah saling mengenal, maksudku dia yang tak pernah mengenalku. Hanya saja ketika pas ada kegiatan rohis bersama, aku memang sering bertemu dengannya secara jarak jauh.

“hayo lagi ngelamunin apa akh Fatah?” tiba-tiba tepukan ringan mampir ke bahuku. Sentak aku kaget dan seketika surat yang baru kutemukan itu buru-buru kulipat seadanya dan menyembunyikannya di buku catatan.

“waalaikumsalam akh Bayu. Suka banget sih bikin kaget orang?” balasku dengan sedikit melototkan mata.

“ eh..afwan lupa. Assalamualaikum akhi” kata Bayu yang akhirnya sadar bahwa dia lupa menyapaku dengan salam.

Aku segera menenangkan pikiran seraya menarik nafas pelan, aku tak boleh terlihat aneh seperti ini, apalagi di hadapan ikhwan seperti Bayu. Maklum saja, meskipun kadang sikapnya konyol, Bayu sangat over protektif dan sedikit sensitif kepada para ikhwan lainnya, terlebih karena ia adalah seorang ikhwan yang amanahnya di bidang kaderisasi rohis fakultasku. Jangan sampai Bayu melihat mimik muka aneh, sebagai mahasiswa psikologi, dia bisa tahu ada yang tak biasa dari seseorang, bisa-bisa dia akan menginterogasiku sepanjang hari ini.

“ hei, pertanyaan ana belum dijawab, antum lagi ngapain bengong sendirian? Ajak-ajak dong, ntar kalo sendirian bisa di goda syaitan” ucap Bayu lagi sambil mengambil posisi bersandar dan berhadapan denganku.

“ga ngapa-ngapain kok akh, cuma lagi fokus sama materi kuliah tadi” jawabku berbohong. Aduh ya Allah…maafkan aku ya, aku terpaksa berbohong, aku tak mau sampai Bayu mengetahui keanehan padaku yang aku sendiri tak tahu apa dan kenapa.

“ ohh..ga usah terlalu dipikirkan akh, santai aja, kuliah tuh jangan dibawa berat dan jadi beban. Eh iya, antum ada baca koran hari ini? tulisan ukhti Indira dimuat lagi, isinya tentang pandangannya pada kasus pencemaran limbah di sebuah perusahaan industri besar yang lagi heboh-hebohnya itu. wuah…kapan ya ana bisa seperti dia, memasukkan ide dan dibaca oleh semua orang?” kata Bayu sambil melempar pandangan ke atas dan bawah kampus.

Glekk! Tiba-tiba terasa getaran aneh dihatiku ketika Bayu menyebut nama Indira. Ohh..Rabbi, apa yang sebenarnya terjadi padaku ini?? desahku dalam hati. Segera aku mengontrol emosi yang sedang bergejolak di hati. Ingin rasanya aku kabur dari Bayu, tapi biasanya itu bukan cara efektif, Bayu pasti akan curiga, kan sudah kubilang Bayu itu orangnya sensitif.

“akhi…akh..hei…halo…!!” teriakan Bayu menyadarkan pikiranku yang baru saja melanglang buana tak jelas, aduh…ada apa ini ya Rabb?? Desahku dalam hati…“eh..oh..hm…ga papa kok akh, afwan ya, ana mau ke perpustakaan dulu. Oya, ba’da ashar nanti syuro follow up mentoring kan? Insya Allah ana datang, dah ya, assalamualaikum” sahutku pada Bayu sembari buru-buru meninggalkannya yang hanya bisa menatap kepergianku dengan wajah melongo…kasian juga sih, tapi daripada nanti aku di cecarnya lagi??

Perpustakaan terlihat sepi, hanya ada beberapa mahasiswa didalam, ada yang sedang membaca buku, ada juga yang sambil mengerjakan tugas kuliah. Aku berjalan menuju rak buku bagian psikologi, sekalian mencari bahan tugas makalah. Dan ketika berjalan menuju meja favoritku, yaitu di ujung dekat jendela, aku terhenyak, ada sesosok orang yang beberapa hari ini cukup “mengganggu”ku. Indira, ya..dia sedang duduk di meja kesukaanku, memang sih masih ada meja lain disana, tapi bagiku posisi meja itu lebih menyenangkan hatiku. Indira sedang berhadapan dengan laptopnya, entah sedang mengerjakan tugas kuliah atau sedang menulis. Beberapa saat pandanganku tak beralih darinya, dia duduk membelakangiku.

“Astaghfirullah..ayo Fatah, jaga pandanganmu!!” jeritku pada hati. Buru-buru aku menuju meja tempat peminjaman buku, tidak jadi aku menghabiskan waktu siang ini di perpustakaan. Setelah itu aku menuju mesjid kampus dan sebentar membuka laptopku. Lumayan jaringan wireless kampus masih menjangkau sampai mesjid ini. Langsung ku buka browser Mozilla dan YM untuk sekedar mengecek email dan sekalian membuka facebook.

Terlihat di list teman yang online, ada nama “Ukhti Indira sang pejuang pena”, itu adalah nama FB Indira. Jantungku kembali berdebar kencang, sungguh aku tak suka ada rasa ini berkembang dihatiku. Entah apa yang mendorongku untuk melakukan ini, ku pilih nama Indira untuk kuajak chat.
“assalamualaikum” tulisku dalam chat pertama. Agak lama aku menunggu balasan dari Indira. Ahh..aku tahu Indira adalah orang yang tidak sembarangan bisa disapa.

“waalaikumsalam” tiba-tiba ada balasan chat dari Indira. Aku tersenyum entah apa maknanya
“ hmmm…saya termasuk yang suka tulisan ukhti. Afwan”
“ ohh..hehe…syukron, semoga saja bermanfaat”
“itu pasti, tulisan ukhti selalu menggugah, dan seringkali tidak terlintas di pikiran siapapun, termasuk saya”
“oh ya? itu hasil analisa dan renungan kok, Alhamdulillah”
“^_^”
“afwan, antum ikhwan mana?”
“ ana ikhwan di bumi Allah, semoga berkenan menjalin ukhuwah dengan ana”
“bumi Allah itu kan luas akhi”
“ya…pokoknya di bumi Allah lah, jelasnya saya ga akan macam-macam sam ukhti kok, he..”
“hmm..ya sudah, salam kenal dan ukhuwah. Afwan ana masih ada yang harus dikerjakan. Wassalam”
“iya, syukron atas waktunya. Waalaikumsalam”

Entah kenapa sejak obrolan singkat kami via chatting itu, aku semakin memendam perasaan rindu pada Indira. Apalagi dia akhirnya sering men-tag aku di setiap tulisannya, dan tentu saja aku tak pernah absen mengomentari tulisan tersebut sembari memberikan jempolku, karena bagiku apapun yang ditulis oleh Indira akan selalu indah dan menyejukkan hati, terlebih…hatiku.

Dan entah syaitan apa yang telah berhasil merasuki dan mengobrak-abrik hatiku hingga akhirnya keteguhan prinsipku tentang menjaga pandangan baik mata dan hati retak. Aku mulai berani menyatakan perasaanku pada Indira! Lewat sebuah Personal Message di facebook, ku tuliskan semua yang kurasakan padanya, tentang kekagumanku pada sosoknya yang luar biasa, mulai dari kehebatannya merangkai kata dalam sebuah tulisan hingga kesibukan dakwahnya. Entah apakah malaikat sedang bersamaku saat itu, atau malaikat sudah berusaha menahanku tapi nafsuku berhasil mengalahkannya, entah..jelasnya yang ada dalam pikiranku hanyalah menyatakan perasaanku pada Indira. Tapi sungguh, aku hanya ingin sekedar mengungkapkannya saja tanpa berharap Indira akan mau memberikan jawaban padaku. Aku merasa tak bisa lebih lama lagi menyimpan rasa yang terlanjur hadir dihatiku. Apakah aku salah hanya sekedar mengungkapkan agar beban dihatiku ini sedikit berkurang??

Ukhti Indira…
Semoga anti selalu dalam lindungan Allah…
Afwan jiddan atas apa yang ana lakukan ini. Tapi..ana sudah tak bisa menyimpan rasa ini terlalu lama. Ana menyukai anti…lebih dari sekedar suka yang anti terima dari penggemar anti selama ini. Terasa menjadi beban yang teramat berat ketika rasa ini semakin hari semakin tumbuh subur dihati ana, dan menurut ana tidak ada cara lain selain dengan mengungkapkannya pada anti. Tapi sungguh, ana tidak berharap jawaban apapun dari anti. Walau andai bisa dan boleh, ana ingin sekali menghalalkan perasaan ini dalam sebuah ikatan suci, tapi…ternyata amanah ana masih terlalu banyak, ana harus menyelesaikan kuliah ini dulu, mencari pekerjaan baru ana berani untuk datang kerumah anti dan berbicara pada orangtua anti. Sekali lagi afwan jiddan. Biarlah rasa ini kemudian menjadi endapan dihati, insya Allah…ana akan jaga hingga waktu itu tiba.
Wassalam. Al Mujahid Fatah

Sedikit ragu ku-send pesan itu ke Indira, ada rasa tenang yang menyergap dihati. Apakah ini karena aku sudah mengungkapkan semuanya pada Indira?? Atau jangan-jangan…ini adalah “ketenangan” dari syaitan?? Ya Rabb…maafkan aku, sungguh aku hanya hambaMu yang lemah ketika Kau beri aku rasa itu… !!!

“Selesai”

Facebook Comments
Tag ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *