Cinta Dalam Hati

“Cinta Dalam Hati”

Sore itu berjuta tetes air dari langit mulai turun membasahi dedaunan yang tumbuh dan tertata rapi di belakang rumah Sarah dan menyuarakan percikan air di kolam ikan miliknya. Tampak seorang gadis sedang duduk melamun menikmati saat hujan itu, seakan terpaku mengenang masa yang telah lalu.

“Heh, melamun saja? Ini minumnya,” suara Sarah membuyarkan lamunan Fuchi.

“Ehm, terima kasih minumnya.”

“Ngelamunin apaan sih kamu? Serius sekali,” tanya Sarah penasaran.

“Saat hujan begini aku jadi ingat sama…” jawaban Fuchi terputus oleh Sarah.

“Ooh, iya iya aku mengerti. Pasti kamu ingat dengan Alan kan!” tebak Sarah.

“Hm, iya. Kok kamu tahu?”

“Ya, jelas tahu lah. Waktu itu dia pergi saat hujan seperti ini. Dan kamu bela-belain naik sepeda dari rumahmu ke terminal hanya demi melihat dia untuk yang terakhir kalinya. Karena kamu tahu dia akan pergi dan tidak akan kembali lagi. Bahkan sudah setahun pun dia pergi kamu masih saja mengingat-ingat dia, dan kamu yakin kalau dia akan kembali lagi ke sini. Padahal kenyataannya, mana, sampai saat ini pun dia tidak kembali. Iya kan!” jelas Sarah.

“Wah, kamu hebat, aku tidak menyangka kamu masih ingat apa yang pernah aku ceritakan tentang Alan ke kamu. Eh, tapi, siapa bilang kalau Alan tidak akan kembali?! Aku yakin dia pasti ke sini. Yah, mungkin belum waktunya saja,” kata Fuchi sambil tersenyum menutupi kesedihannya.

“Aduh, sudah lah Chi. Kamu tidak perlu meyakinkan diri kamu seperti itu. Aku hanya tidak mau kamu kecewa nantinya,” kata Sarah mengungkapkan rasa simpatinya.

“Iya, terima kasih sudah mau peduli sama aku. Tapi, pokoknya aku akan tetap menunggu dia, titik!” tegas Fuchi.

“Tapi Chi, kan kamu sendiri yang pernah bilang, kalau selama dia jadi tetanggamu dulu, tidak pernah sedikit pun dia menyapa kamu atau mengajak bicara walau hanya sekedar basa-basi. Tidak pernah kan? Kamu juga bilang kalau dia angkuh dan sombong. Kenapa kamu bisa seyakin itu?” kata Sarah dengan perlahan.

“Kamu tidak tahu Sarah. Aku merasakan sesuatu yang beda dari cara dia melihat aku dan tingkah laku dia sama aku, saat dia tahu kalau aku ngelihatin dari jauh, dia seperti cari perhatian gitu sama aku,” ungkap Fuchi dengan sedih mengingat Alan.

“Ya sudah dong, kamu jangan sedih terus. Begini Chi, aku itu cuma nggak mau kamu terus memikirkan dia, kamu cuma buang-buang waktu untuk memikirkan hal yang nggak pasti gini.”

“Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan terlalu larut memikirkan dia kok,” kata Fuchi sambil menghapus air matanya dan mulai mengembangkan senyum di pipinya.

Sarah menganggukkan kepala, mengiyakan kata-kata Fuchi sambil tersenyum. Mereka lalu berpelukan, di tengah suara gemericik air hujan sore itu.

Dalam hati Fuchi, sebenarnya dia takut kalau ternyata Alan tidak akan pernah kembali. Tapi, entah kenapa feelling Fuchi tentang Alan sangat kuat.

Sarah pernah mencoba untuk mencarikan seseorang yang bisa menggantikan posisi Alan di hati Fuchi, supaya Fuchi tidak terus-terusan sedih memikirkan Alan. Namun, rencana Sarah tidak berhasil, setiap teman Sarah yang dikenalkannya pada Fuchi selalu di tanggapi dengan dingin oleh Fuchi. Jadi, tidak ada seorang pun yang berani mendekati Fuchi.

“Rah, kenapa sih kamu banyak ngenalin teman-teman kamu ke aku, cowok semua lagi,” tanya Fuchi dengan penasaran di sela-sela pelajaran Ekonomi waktu itu.

“Ehm… tidak apa-apa sih. Yah, supaya kamu tidak bete saja memikirkan si Alan yang tidak jelas itu,” jawab Sarah sedikit berbisik.

“Siapa juga yang bete, biasa aja kali. Sudah lah, usaha kamu tidak akan mempan. Hati aku cuma terbuka buat Alan seorang,” jawab Fuchi dengan tersenyum.

“Ih, kamu kok seperti itu. Nanti kalau sampai tua kamu tidak ketemu sama dia, jadi perawan tua baru tahu rasa.”

“Bodo’,” jawab Fuchi enteng.

“Iih, bodo-bodo. Aku sumpahin jadi perawan tua beneran kamu! Biar sampai ubanan kamu nggak dapat jodoh sekalian. Hiii.. pasti lucu,” ucap Sarah sambil tertawa kecil.

“Yeee… kamu kali yang jadi perawan tua. Buktinya, sampai sekarang pun kamu juga belum punya pacar. Pasti sampai muka kamu keriput pun belum punya pacar juga. Hiiii,” ejek Fuchi.

“Enak saja kamu.”

“Ssst…” Terdengar suara itu dari salah seorang siswa yang merasa terganggu dengan pembicaraan Fuchi dan Sarah. Membuat Sarah dan Fuchi menghentikan pembicaraan mereka. Dan ruang kelas pun kembali hening.

Suatu hari sempat terbesit di benak Fuchi, kenapa dia begitu yakin kalau Alan akan kembali. Padahal dia tahu tidak ada alasan untuk Alan kembali ke Jogja tempat tinggal Fuchi. Di Jogja Alan tidak punya sanak saudara, dia hanya nge-kost di dekat rumah Fuchi, di Jogja dia hanya untuk bekerja. Dia bekerja di counter dekat rumah Fuchi.

Oleh karena itu, setiap hari Fuchi selalu bisa bertemu dengan Alan. Dia terbiasa melihat tingkah laku Alan yang lucu walaupun sedikit sombong. Tetapi, sekarang sosok itu sudah tidak hadir di setiap hari-harinya. Dia meyakini sesuatu dalam diri Alan, dia melihat ada sesuatu yang terpendam dalam diri Alan, dia juga melihat ada cinta di hati Alan yang masih tertutup oleh api keangkuhan dan kesombongannya. Yah, dia berharap suatu hari bisa bertemu dengan Alan dan bisa mengungkapkan perasaanya dengan Alan.

Namun, dari hari ke hari, bulan ke bulan, lama-lama Fuchi lelah menunggu seseorang yang tidak pasti, dia ingin berusaha melupakan Alan. Namun, selalu saja hati kecilnya berkata kalau suatu hari nanti Alan pasti datang. Dia bingung, antara kata hatinya atau kata-kata Sarah. Dalam hatinya dia berkata,

Mungkin benar kata Sarah, kalau Alan tidak akan pernah ke sini. Mungkin juga dia malah sudah lupa sama aku. Aku hanya buang-buang waktu saja, selama setahun ini aku hanya menunggu orang yang tidak pasti, toh dia juga belum tentu memikirkan aku. Huh, kenapa aku aneh sih, lebih baik aku tidak usah berharap dia akan ke sini.

Mungkin mulai saat ini aku harus berhenti berharap, belum tentu juga dia memikirkan aku seperti aku memikirkan dia, pikir Fuchi melepaskan harapannya bertemu dengan Alan.

Beberapa hari setelah dia mengatakan melepaskan semua harapannya untuk bertemu Alan , tak disangka ketika dia pulang sekolah dan melewati depan counter bekas tempat kerja Alan, dia melihat sosok seperti Alan ada di sana.

“Ya ampun. Apa aku salah lihat ya. Kok, di counter tadi seperti ada Alan? Ah, tapi mana mungkin,” gumam Fuchi dan seketika menghentikan sepedanya.

”Masa aku harus ke sana lagi untuk memastikan kalau itu Alan atau bukan! Ah, nanti sore saja aku kembali ke sana,” pikir Fuchi.

Sore harinya Fuchi pura-pura lewat depan counter untuk memastikan sosok itu Alan atau bukan. Dia lalu mengeluarkan sepeda dari garasi rumahnya. Ketika dia belum beberapa jauh menaiki sepedanya, dari jauh dia melihat ada seorang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Seseorang itu mirip sekali dengan Alan. Setelah mendekat dan semakin mendekat, ternyata orang itu memang Alan. Ketika berpapasan, Fuchi sedikit tersenyum ragu karena takut tidak dibalas oleh Alan, tetapi Alan malah tersenyum sangat ramah sekali. Bahkan menurut Fuchi, itu adalah senyum terindah yang pernah diberikan oleh Alan kepada Fuchi.

Betapa senangnya hati Fuchi saat itu, harapannya tercapai, doanya terkabul dan penantiannya selama setahun lebih tidak sia-sia. Apalagi Alan mau tersenyum kepada Fuchi.

Kejadian itu lalu diceritakan kepada Sarah waktu di sekolah. Fuchi ingin sekali membuktikan bahwa penantiannya selama ini tidak sia-sia.

“Pagi Sarah!” teriak Fuchi menyapa Sarah ketika memasuki kelasnya.

“Pa…pagi,” jawab Sarah dengan terbata karena heran melihat tingkah laku Fuchi yang tidak seperti biasanya.

“Kamu tidak apa-apa kan! Kesambet setan apa kamu, tidak biasanya aku lihat kamu ceria dan senyum-senyum tidak jelas begini,” tanya Sarah penasaran sambil menempelkan punggung tangannya ke pipi dan kening Fuchi.

“Ih, apaan sih kamu. Aku sehat-sehat aja kali. Eh, tahu tidak! coba tebak kemarin aku habis ketemu sama siapa?”

“Memangnya kamu habis ketemu sama siapa? Kelihatannya senang sekali,” tanya Sarah penasaran.

“Kemarin aku ketemu sama Alan.”

“Hah…Alan?! Ah, kamu pasti bercanda kan!” kata Sarah ragu.

“Aku benar-benar ketemu sama dia. Dia ada kost-kostannya dulu. Bahkan, dia mau senyum sama aku. Aku seneng banget.”

“Wah, bagus dong. Ternyata aku salah, aku kira dia tidak akan kembali ke sini. Ini kesempatan kamu buat PDKT sama dia.”

“Iya, ini kesempatan aku buat PDKT sama dia. Dan aku tidak mau buang-buang waktu, mungkin saja dia di sini cuma sebentar.”

“Iya, jangan sampai kamu kehilangan dia lagi. Pokoknya aku akan dukung kamu, kalau kamu butuh saran beritahu aku, aku pasti akan bantu. Lagi pula dia sudah mau senyum sama kamu, itu awal yang baik, tinggal kamu sering menyapa dia dan sering ajak ngobrol. Oke?” kata Sarah yang ikut senang dan mendukung usaha Fuchi untuk PDKT sama Alan.

“Oke,” jawab Fuchi seakan siap untuk bertempur.

Hari demi hari Fuchi semakin sering berbicara dengan Alan, mareka jadi semakin dekat dan akrab. Fuchi tidak melihat sosok yang angkuh dan sombong dari Alan. Malah dia melihat sosok yang ramah, lucu dan baik.

Ternyata Alan di Jogja hanya seminggu, katanya ada urusan yang belum diselesaikannya.

“Memangnya ada urusan apa Lan? Sepertinya penting sekali. Yah, kalau aku boleh tahu,” tanya Fuchi penasaran saat jalan kaki sepulang sekolah yang tanpa sengaja bertemu dengan Alan.

“Yah, ada lah pokoknya. Mungkin nanti kamu juga tahu,” jawab Alan yang masih membuat Fuchi penasaran.

“Ooh.. Eh, iya. Kamu pulangnya kapan?

“Mungkin dua hari lagi. Kenapa? Takut ya, kalau aku pergi?”

“Ih, apaan sih,” kata Fuchi dengan pipi yang memerah tersipu malu.

“Oh, iya. Sebelum aku pulang, mau nggak kita main ke taman kota?” ajak Alan, yang tak pernah terduga sebelumnya oleh Fuchi.

“Hah… Ke taman berdua sama kamu?” kata Fuchi tercengang.

“Iya, berdua. Kenapa memangnya? Tidak mau ya!”

“Ehm, tidak. Aku mau. Eh, tapi lihat nanti ya!” jawab Fuchi dengan terbata dan sedikit malu.

“Oke.”

Fuchi senang sekali saat itu, dia tidak pernah mengira kalau Alan mau mengajaknya pergi berdua. Mendengar hal itu, Sarah menduga kalau Alan ingin menungkapkan cintanya kepada Fuchi, tetapi Fuchi tak yakin. Mana mungkin dalam waktu kurang dari seminggu Alan langsung suka sama aku, pikir Fuchi.

Sore itu hujan rintik-rintik, namun tak menyurutkan niat Fuchi untuk bertemu dengan Alan di taman kota yang telah dijanjikan oleh Alan.

“Chi, hujan itu. Kamu masih mau pergi juga?” tanya Sarah waktu menemani Fuchi di kamar memilih pakaian yang bagus utnuk pertemuan nanti.

“Ya jadi lah. Masa cuma gara-gara hujan tidak jadi pergi. Kan kasihan Alan sudah menunggu,” jawab Fuchi sambil menyisir rambutnya.

“Alah, aku tahu kamu pasti berharap dia mau katakan cinta untuk kamu. Iya kan!”

“Ya nggak lah. Dia mau katakan cinta atau tidak, tidak jadi masalah buat aku. Kalau pun dia tidak suka sama aku, ya tidak apa-apa, yang penting untuk saat ini sudah bisa jadi temannya saja aku sudah seneng banget.”

“Ooh, gitu!

“Ya sudah. Temani aku yuk!” ajak Fuchi.

“Hah…aku ikut?! Ah, malas ah. Masa nanti aku cuma lihat kalian pacaran!”

“Ya ampun siapa juga yang mau pacaran. Nanti kamu nemenin aku sampai Alan datang, habis itu terserah kamu mau pulang atau kemana.”

“Kenapa tidak sama dia saja?”

“Katanya dia mau nunggu di sana. Yah, ikut ya?” pinta Fuchi

“Ya sudah lah.”

Mereka berdua lalu pergi ke taman itu. Setelah sampai di sana, mereka duduk di bangku dekat pohon besar. Kata Alan, dia akan menunggu Fuchi di tempat itu.

“Mana Alan? Katanya menunggu di sini,” tanya Sarah tidak sabar.

“Mungkin masih di jalan. Sabar saja!”

“Nah, itu dia,” seru Sarah sambil menunjuk ke jalan raya.

“Iya. Wah, dia bawa apaan itu?”

‘Ehm, dia bawa boneka itu buat kamu. Cie…Ya sudah ya, aku pulang dulu. Selamat bersenang-senang,” kata Sarah sambil melangkah pergi.

“Ih, apaan sih. Ya sudah sana, hati-hati.”

Dari jauh Alan melambaikan tangan ke arah Fuchi, Fuchi pun membalasnya. Dengan perlahan Alan mencoba menyeberangi jalan yang ramai dan licin karena terguyur hujan.

Tetapi, tiba-tiba ada sebuah truk yang melaju kencang ke arah Alan. Dari jauh Fuchi melihat truk itu, dan dia lalu berteriak,

“Alan awas!” teriak Fuchi.

Namun belum sempat Alan menghindar, truk itu telah menabrak tubuh Alan

“Bruuk… Ciiiit…..! ” Suara rem truk itu mencoba untuk berhenti. Sontak Fuchi pun terkejut lalu berlari menuju jalan raya itu. Sarah pun yang belum jauh dari taman langsung ikut berlari menghampiri Alan.

“Alan…Alan kenapa bisa begini Lan? Kita ke rumah sakit sekarang. Kamu tahan ya, aku panggil ambulan dulu,” kata Fuchi dengan berlinang air mata.

“Tidak perlu, Chi. Aku hanya ingin kamu tahu sesuatu yang selama ini terpendam dalam hati aku,” kata Alan sambil menahan sakit.

“Sudah Alan, kamu tidak usah banyak bicara. Kita ke rumah sakit sekarang.” Fuchi menangis dengan tangan menahan darah yang keluar dari kepala Alan.

“Aku cuma mau bilang kalau aku cinta sama kamu. Aku suka sama kamu sejak aku pertama ketemu kamu. Tapi, aku membohongi perasanku sendiri. Dan aku baru sadar setelah setahun aku pergi, aku kangen sama kamu. Dan aku belain kesini cuma ingin katakan itu. Mungkin aku hanya diberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku dan aku tidak punya kesempatan untuk memiliki kamu. Mungkin ini saat terakhir aku,” ungkap Alan dengan terbata menahan sakit.

“Tidak Alan. Kamu tidak boleh pergi, kita ke rumah sakit sekarang.”

“Sekarang kamu jawab, apa kamu juga cinta sama aku? Jawab sebelum aku benar-benar pergi.”

“Kamu tahu Alan? Aku juga cinta sama kamu. Selama setahun ini aku menunggu kamu, menunggu tanpa kepastian, aku berharap kamu kembali. Ternyata kamu memang kembali, dan kamu juga mencintai aku. Tapi kenapa sekarang kamu mau ninggalin aku lagi. Kamu tidak boleh pergi, kamu harus bisa bertahan Alan.”

“Tidak bisa, aku sudah tidak kuat lagi. Malaikat itu sudah ada di depanku. Maafkan aku, aku harus pergi. Tapi, aku pergi dengan meninggalkan cintaku untuk kamu. Dan ini, kamu simpan boneka ini ya, walaupun berlumur darah. Sekarang aku bisa pergi dengan tenang. Selamat tinggal Fuchi,” kata Alan untuk terakhir kalinya sambil memberikan boneka kepada Fuchi.

“Tidak … Alan… Jangan pergi Alan… Alan…,” teriak Fuchi di tengah-tengah keramaian jalan dan gemericik hujan.

Takdir berkata lain, Alan pun telah pergi meninggalkan Fuchi dengan cinta yang telah diungkapkannya. Tapi cinta Alan terlambat untuk disadari hingga dia meninggalkan cinta dengan hanya sebatas kata-kata bukan suatu pengorbanan atau kasih sayang. Cinta memang ditakdirkan untuk sulit disadari. Bahkan untuk menyadari itu cinta atau bukan, harus dengan perginya seseorang itu, baru terasa betapa rindunya dengan orang yang ternyata kita cintai.

Bagi Fuchi mencintai seseorang tak butuh logika, yang dia butuhkan hanyalah feeling dan hatinya, karena dari situlah yang benar-benar tulus.

“selesai”

Facebook Comments
Tag

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *